Wisuda XIV STIE Hidayatullah Depok, KH Naspi Arsyad: Daya Saing Harus Ditopang Integritas

(hidayatullahdepok.org) — Suasana khidmat, haru, dan penuh rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-XIV Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok yang diselenggarakan di Harris Hotel Cibinong, Kabupaten Bogor, Ahad (25/10/2026). Di tengah momentum pelepasan para sarjana baru tersebut, sebuah pesan moral yang tajam dan menggugah disuarakan langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, K.H. Naspi Arsyad, Lc.

Di hadapan para wisudawan, orang tua atau wali mahasiswa, jajaran senat, serta civitas akademika yang hadir, Kiai Naspi menegaskan bahwa di era modern yang penuh kompetisi ini, kecerdasan akademik dan keterampilan profesional saja tidaklah cukup. Tanpa adanya fondasi moral yang kuat, seluruh keahlian tersebut dikhawatirkan kehilangan arah dan keberkahannya.

Menurut Kiai Naspi, bangsa Indonesia sejatinya tidak kekurangan sumber daya manusia yang handal. Potensi anak bangsa di berbagai bidang—mulai dari sains, teknologi, olahraga, hingga sektor-sektor profesional lainnya—sangat bisa diandalkan. Kendati demikian, modal kecerdasan intelektual itu mutlak harus dikawal dan ditopang oleh karakter integritas yang luhur agar benar-benar mendatangkan maslahat yang luas bagi masyarakat.

Untuk memperjelas pandangannya, Kiai Naspi menyampaikan perumpamaan yang sangat filosofis. Ia mengibaratkan integritas bagaikan tiang penyangga dan fondasi utama dari sebuah bangunan megah. Betapapun mewah dan indahnya rupa sebuah rumah dari luar, ia tidak akan pernah mampu berdiri kokoh apabila fondasi dan tiang di dalamnya rapuh atau keropos.

“Integritas adalah kata yang sangat agung yang sudah mulai dirasakan kehilangan dari jati diri bangsa dan negara kita,” ungkap Kiai Naspi di hadapan para hadirin, menyulut kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat kejujuran dan amanah di tengah arus zaman yang dinamis.

Gelar Akademik Bukan Jaminan Mutlak Tanpa Integritas


Lebih lanjut, Kiai Naspi turut menyoroti realitas sosial yang kerap memprihatinkan di tengah masyarakat, di mana berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran hukum tak jarang justru melibatkan oknum-oknum berpendidikan tinggi atau mereka yang membawa atribut akademik tertentu.

Bagi Kiai Naspi, fenomena tersebut harus dijadikan sebagai alarm pengingat yang serius. Bahwa selembar ijazah, gelar kesarjanaan yang panjang, ataupun penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi, tidak secara otomatis menjamin pemiliknya memiliki integritas moral yang luhur.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati agar senantiasa menjadikan institusi pendidikan tempat mereka menempa diri sebagai kawah candradimuka. Tempat di mana kompetensi intelektual tumbuh seirama dengan keteguhan akhlak. Sarjana muslim yang dicetak oleh STIE Hidayatullah Depok dituntut mampu menunjukkan harmoni yang utuh antara ilmu yang dikuasai, nilai keimanan yang diyakini, serta manifestasi tindakan nyata di tengah realitas sosial.

Melangkah dari Pernyataan Menuju Alam Kenyataan

Dalam orasi ilmiahnya yang sarat makna tersebut, Kiai Naspi juga merefleksikan kembali pemikiran fundamental yang diwariskan oleh pendiri Hidayatullah, Almarhum K.H. Abdullah Said. Almarhum pernah mengingatkan bahwa seorang insan berilmu dan kader pejuang tidak boleh sekadar berhenti pada tataran retorika, wacana, atau alam pernyataan semata.

Seorang sarjana sejati harus memiliki keberanian dan etos kerja yang progresif untuk bergerak mewujudkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam alam kenyataan. Pesan ini dinilai sangat relevan bagi para lulusan yang sebentar lagi akan meninggalkan zona nyaman kampus dan menginjakkan kaki di kancah profesional yang sesungguhnya.

Keberhasilan seseorang menempuh studi perguruan tinggi, tegas beliau, tidak diukur semata-mata dari selembar ijazah yang digenggam atau jabatan empuk yang berhasil diraih, melainkan seberapa besar kontribusi riil, solusi, dan kemanfaatan yang mampu mereka hadirkan bagi umat dan bangsa.

Para lulusan diajak untuk meluruskan orientasi pengabdiannya. Mereka diminta untuk tidak terjebak pada mentalitas pragmatis yang berorientasi semata-mata pada kepentingan pribadi, melainkan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian umat yang tinggi.

Menanam Semangat Jihad Profesional dalam Bingkai Surah Al-Hajj


Sebagai penguat semangat juang bagi para sarjana ekonomi Islam tersebut, Kiai Naspi menutup pesannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 78, khususnya penggalan ayat *wa jāhidū fillāhi haqqa jihādih*. Ayat tersebut merupakan seruan ilahi agar setiap hamba senantiasa bersungguh-sungguh dan mendedikasikan seluruh potensi terbaiknya dalam menunaikan perjuangan di jalan Allah.

Dalam konteks kehidupan profesional modern, semangat jihad tersebut dapat diimplementasikan melalui etos kerja yang unggul, kedisiplinan yang ketat, kejujuran dalam memikul setiap amanah, serta kesiapan memberikan performa terbaik demi kemajuan umat dan bangsa.

Dengan dikukuhkannya para wisudawan dan wisudawati pada gelombang ke-XIV ini, STIE Hidayatullah Depok kembali membuktikan konsistensinya dalam mempersembahkan deretan kader ekonom muslim berkualitas. Para lulusan ini diharapkan tidak hanya siap menghadapi ketatnya persaingan global, tetapi juga berdiri sebagai garda terdepan yang membawa nilai integritas dan akhlak mulia, demi membangun peradaban Islam yang bermartabat di bumi pertiwi.