greenberggrossllp.com

YPPH Depok

Maulid Nabi di Hidayatullah Depok, Jamaah Rumah Qur’an An-Najm Diajak Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan Kehidupan

Depok — Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mempererat silaturahmi antara Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan masyarakat sekitar.

Hal tersebut tergambar dalam kegiatan Silaturahmi sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar bersama jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad (20/9/2026).

Bertempat di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok, kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Sekitar 300 peserta hadir, terdiri dari para asatidz, mitra juang YPPH Depok, serta jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan hadrah, dilanjutkan pembacaan Surah Al-Baqarah dan Surah Yasin, kemudian tausiyah dan penguatan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.

Maulid sebagai Momentum Memperkuat Cinta kepada Rasulullah

Ketua Departemen Dakwah YPPH Depok, Ust. Abdul Rohim, M.M., menyampaikan rasa syukur sekaligus ucapan selamat datang kepada seluruh jamaah yang hadir di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta di kampus kami di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Alhamdulillah hari ini kita melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meskipun bulannya sudah lewat, tetapi ini tetap kita laksanakan sebagai bukti bahwa kita mencintai Rasulullah SAW,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang biasa diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan warga sekitar, dan jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm sebagai salah satu binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok,” tuturnya.

Ust. Abdul Rohim juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan, khususnya para jamaah dan donatur yang memberikan dukungan.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini, para ibu-ibu jamaah yang sangat semangat dan telah berjibaku, serta seluruh pihak dan para donatur yang telah memberikan support baik secara moril maupun materil,” imbuhnya.

Rasulullah SAW, Cetak Biru Manusia Sempurna

Hadir sebagai pemateri, Ust. Dr. Mudzakkir Usman, PhD., Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, mengajak jamaah untuk tidak menjadikan Maulid Nabi sebatas kegiatan seremonial.

Dalam paparannya bertajuk “Cetak Biru Manusia Sempurna: Menemukan Resiliensi, Kedamaian, dan Kekuatan Spiritual di Era Modern”, beliau mengajak peserta melihat kehidupan Rasulullah SAW sebagai teladan yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan saat ini.

Materi tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan role model dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah SAW ditempatkan sebagai uswah hasanah, sehingga keteladanan beliau dapat menjadi rujukan dalam membangun kualitas pribadi, keluarga, dan kehidupan bermasyarakat.

Ust. Mudzakkir kemudian menguraikan lima teladan utama Rasulullah SAW yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu resiliensi atau daya tahan menghadapi ujian, kemampuan mengendalikan amarah, membangun kerukunan sosial, menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.

Belajar Tangguh dari Rasulullah SAW

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah tentang ketangguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Rasulullah SAW mengalami berbagai ujian berat sejak masa kanak-kanak hingga perjalanan dakwahnya. Beliau pernah mengalami kehilangan orang-orang yang dicintai, tekanan, pemboikotan, bahkan penolakan dan kekerasan dalam dakwah.

Namun, ketika menghadapi penolakan masyarakat Tha'if, Rasulullah SAW tidak memilih membalas dengan keburukan. Beliau justru berharap agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah SWT. Kisah tersebut menjadi gambaran tentang keteguhan, kesabaran, dan keluasan hati seorang Rasul.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat modern agar setiap tekanan kehidupan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan, dan tetap menjaga orientasi kepada Allah SWT.

Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah Marah

Teladan berikutnya adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mengendalikan amarah dan menjaga lisan.

Dalam materi disebutkan pesan Rasulullah SAW, “Laa Taghdhab” atau “Jangan marah.” Kekuatan seseorang bukan semata-mata diukur dari kemampuan fisiknya, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika berada dalam kondisi marah.

Pesan ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga maupun lingkungan sosial, membutuhkan kemampuan mengelola emosi agar hubungan tetap terjaga.

Menjadi Pribadi yang Menghadirkan Rasa Aman

Dalam kehidupan bermasyarakat, Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memuliakan tetangga dan menjaga hubungan sosial.

Materi kajian mengingatkan pentingnya menyayangi yang muda, menghormati yang lebih tua, serta memastikan orang-orang di sekitar merasa aman dari gangguan kita.

Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk menjauhi hasad dan membangun kembali silaturahmi di tengah masyarakat.

Keteladanan Rasulullah Dimulai dari Rumah

Ust. Mudzakkir juga mengajak jamaah melihat bagaimana Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam kehidupan keluarga.

Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memberikan perhatian kepada keluarganya. Dalam materi kajian disebutkan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah, memperbaiki keperluan pribadi, serta menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keteladanan Nabi tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial dan dakwah, tetapi juga dalam interaksi sederhana bersama keluarga.

Mengisi Kembali Ruhiyah di Tengah Kesibukan

Teladan terakhir yang ditekankan adalah kedekatan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW memberikan contoh dalam kesungguhan beribadah, termasuk shalat malam. Dalam materi kajian, Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga telapak kakinya mengalami pembengkakan. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab dengan semangat syukur kepada Allah.

Pesan ini kemudian dikaitkan dengan kehidupan manusia modern yang begitu dekat dengan teknologi. Sebagaimana perangkat selalu diisi ulang agar tetap memiliki daya, hati manusia juga membutuhkan penguatan melalui ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT.

Dari Maulid Menuju Perubahan Nyata

Melalui kajian tersebut, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kecintaan secara lisan, tetapi melahirkan perubahan dalam perilaku sehari-hari.

Guru diajak meneladani kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi peserta didik, karyawan menjaga lisan dan mengendalikan amarah ketika menghadapi tekanan pekerjaan, orang tua menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta masyarakat menjaga hubungan baik dengan tetangga dan mempererat silaturahmi.

Dengan demikian, Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana keteladanan Rasulullah SAW hadir dalam kehidupan kita?

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar kecintaan kepada Rasulullah SAW semakin tumbuh, sekaligus menjadi jalan bagi seluruh jamaah untuk semakin dekat kepada Allah SWT dan istiqamah mengikuti sunnah beliau.

Rep: Makhfudz/HD Media
Editor: Tim Humas YPPH Depok