greenberggrossllp.com

YPPH Depok

Dari Pesantren Belajar Jadi Pengusaha, Cendol Santri Hidayatullah Depok Ludes 90 Cup Kurang dari Dua Jam

Depok — Siapa bilang belajar menjadi pengusaha harus menunggu lulus sekolah? Para santri kelas XII Pondok Pesantren Hidayatullah Depok membuktikannya melalui Cendol Santri, sebuah usaha yang mereka kelola dalam bazar Manasik Haji Anak Sholeh PAUD-TK Yaa Bunayya Hidayatullah Depok, Sabtu (22/08/2026).

Tak disangka, 90 cup Cendol Santri berhasil terjual habis dalam waktu kurang dari dua jam. Antusiasme pengunjung yang tinggi membuat para santri harus bergerak cepat melayani pembeli, mengatur stok, menjaga kualitas produk, hingga memastikan seluruh pesanan dapat dilayani dengan baik.

Lebih dari sekadar mengejar angka penjualan, kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi para santri untuk mengenal dunia kewirausahaan. Mulai dari menyiapkan produk, mengelola stand, berkomunikasi dengan konsumen, bekerja sama dalam tim, hingga menghitung hasil penjualan, semuanya dijalankan langsung oleh para santri.

Tidak Hanya Belajar di Dalam Kelas

Kegiatan Cendol Santri menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan ilmu dengan pengalaman nyata. Para santri belajar bahwa keterampilan kewirausahaan tidak cukup hanya dipahami melalui teori, tetapi perlu dilatih melalui praktik.

Dalam prosesnya, mereka dituntut untuk berani berkomunikasi, mengambil keputusan, berbagi tugas, serta bertanggung jawab terhadap usaha yang dijalankan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan mental entrepreneurship dan kemandirian yang diharapkan dapat menjadi bekal setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren.

Kepala Unit SMP-MA Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, M.M., menyampaikan apresiasinya atas inisiatif para santri tersebut.

“Alhamdulillah, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun mental kewirausahaan dan kemandirian santri. Anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung bagaimana sebuah usaha direncanakan, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan. Dari sini mereka belajar keberanian, kerja sama, pelayanan, sekaligus bagaimana melihat peluang,” ungkap beliau.

Beliau berharap pengalaman tersebut dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari pembinaan keterampilan hidup para santri.

“Apa yang dilakukan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi prosesnya sangat berharga. Semoga dari pengalaman ini tumbuh keberanian untuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, mampu membaca peluang, dan siap berkontribusi dalam membangun kemandirian ekonomi di masa depan,” tambahnya.

90 Cup Habis, Santri Rasakan Serunya Dunia Usaha

Salah satu santri kelas XII, Fuad, mengaku bersyukur karena Cendol Santri mendapat sambutan yang sangat baik dari para pengunjung.

“Alhamdulillah, stand kami terjual habis. Sekitar 90 cup sudah terjual dalam waktu kurang dari dua jam. Tadi ramai sekali, sampai kami harus fokus melayani pembeli dan memastikan pesanan tetap berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Menurut Fuad, pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang berbeda dari pembelajaran di kelas.

“Alhamdulillah ini menjadi pengalaman kami dalam berwirausaha. Kami jadi tahu bagaimana rasanya menyiapkan produk, menjual, melayani pembeli, dan bekerja sama dengan teman-teman. Insya Allah pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi ke depannya,” tuturnya.

Segar Rasanya, Positif Pengalamannya

Dari sisi konsumen, Cendol Santri juga mendapat respons positif. Fadli, salah satu pengunjung, mengaku menikmati minuman tersebut, terlebih karena suasana Depok yang cukup panas saat kegiatan berlangsung.

“Alhamdulillah enak rasanya, segar, apalagi diminum saat cuaca lagi panas di Depok,” ujarnya.

Antusiasme para pengunjung pun membuat stand Cendol Santri menjadi salah satu titik yang ramai selama kegiatan bazar berlangsung.

Bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pengalaman seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang lebih utuh. Santri tidak hanya dipersiapkan dengan bekal ilmu dan pembinaan ruhiyah, tetapi juga diarahkan memiliki keterampilan hidup, keberanian berwirausaha, kemampuan bekerja sama, dan kesadaran untuk membangun kemandirian ekonomi.

Cendol Santri akhirnya bukan sekadar 90 cup minuman yang ludes terjual. Di baliknya ada 90 kesempatan belajar—tentang keberanian memulai, kerja keras, pelayanan, kerja sama, dan arti sebuah kemandirian.

Rep: Makhfudz/HD Media
Editor: Tim Humas YPPH Depok