PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
PAUD-TK YAA BUNAYYA DEPOK
Islamic full day school
“Excellent with integral characterrrrrrrr”
Visit us
SMP-MA INTEGRAL HIDAYATULLAH PUTRA DEPOK
Islamic full day & Boarding school
“Excellent with integral character”
Visit us
SMP-MA INTEGRAL HIDAYATULLAH PUTRI DEPOK
Islamic full day school
“Excellent with integral character”
Visit us
APA
KATA MEREKA?
Doni Irawan
Sekolah di Hidayatullah Depok anak-anak di arahkan dan diedukasi menabung sejak dini
Direktur BTH Depok
Ulfi Saepudin
Selama kuliah dan mondok di Pesantren Hidayatullah Depok saya banyak mendapatkan bekal Ilmu yang banyak, pengalaman di lapangan, pengalaman KKN di Masyarakat dan diharapkan ilmu saya bermanfaat untuk diri saya, masyarakat, bangsa dan Agama. Salam Alumni 2025
Alumni STIE
Siti Rokhmah
"Mondok telah membawa perubahan luar biasa bagi anak kami. Akhlak dan perilakunya semakin baik, didukung dengan peningkatan kemampuan akademik dan spiritual yang signifikan. Ananda tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab, sekaligus membangun komunikasi yang lebih harmonis dengan kami sebagai orang tua. Melihat perkembangan ini, hati kami dipenuhi rasa lega dan bangga atas perjalanan yang ia tempuh."
Wali murid dari ananda Ahnaf kelas IX
Johan Seta Nugraha
"Alhamdulillah ponpes Hidayatullah telah mendidik Vano menjadi pribadi yang jauh lebih sholeh, lebih disiplin, lebih mandiri, dan lebih bertanggung jawab atas dirinya dan atas kewajibannya. Di usia yang kritis ini, saya sangat bersyukur bahwa ponpes Hidayatullah telah memberikan lingkungan yang terbaik, yang sehat, dan yang friendly bagi fisik dan jiwa Mercyvano. Terima kasih para Ustadz, terima kasih para Murabbi, terima kasih teman santri, dan terima kasih Hidayatullah."
Wali murid dari ananda : Mercyvano kelas IX
Saiful Anam
"Alhamdulillah anak saya 3 semuanya sekolah di SD Integral Hidayatullah Depok, disini tidak hanya mendidik anak-anaknya saja tapi kami juga ikut belajar melaui program-program sekolah yang sangat inspiratif baik dari ilmu parenting, akhlak, agama dan aplikatif dapat diterapkan di setiap kebiasaan sehari-hari”
Wali Murid SD Integral Hidayatullah
Ainuddin Challik
"Alhamdulillah anak 3 dan masih aktif saat ini di sini, saya sangat senang karena lingkungan disini yang cukup luas, nyaman dan asri, serta kurikulum dan metode pembelajarannya yang sangat bagus berbasis adab dan karakter, sehingga perubahannya sangat bias kita rasakan langsung di rumah”
Wali Murid SD Integral Hidayatullah Depok
Kabar Terbaru
-
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Hukum, Perkuat Bekal Calon Da’i dan Sarjana Ekonomi
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Hukum, Perkuat Bekal Calon Da’i dan Sarjana EkonomiDepok — Memahami persoalan masyarakat tidak cukup hanya dengan bekal ilmu ekonomi dan kemampuan manajerial. Dalam kehidupan sosial dan dunia usaha, berbagai aktivitas juga memiliki keterkaitan erat dengan aspek hukum.Kesadaran inilah yang menjadi salah satu perhatian dalam Pendidikan Paralegal bagi Mahasiswa STIE Hidayatullah Depok yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah pada 21–24 September 2026.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Pemusatan Pengaderan (TC 40) Mahasiswa Calon Da’i dan Wisudawan STIE Hidayatullah Depok Tahun 2026. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual mengenai hukum, tetapi juga diperkenalkan dengan keterampilan dasar yang dapat menjadi bekal ketika berinteraksi dan mengabdi di tengah masyarakat.Membekali Mahasiswa dengan Literasi HukumPendidikan paralegal menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali berbagai persoalan hukum yang dapat muncul dalam kehidupan masyarakat.Direktur Utama LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menjadi salah satu pemateri utama pada hari pertama kegiatan. Materi yang diberikan mencakup sejumlah pembahasan dasar, di antaranya hukum pidana dan perdata, potensi kriminalisasi, bantuan hukum, serta peran lembaga bantuan hukum dalam membuka akses terhadap keadilan.Mahasiswa diperkenalkan pada karakteristik hukum pidana dan perdata serta cara awal mengidentifikasi persoalan berdasarkan jenis perkaranya. Pemahaman tersebut menjadi dasar penting sebelum seseorang mengambil langkah lebih jauh dalam menghadapi atau mendampingi persoalan hukum.Pembahasan juga diarahkan pada situasi ketika seseorang berhadapan dengan proses hukum, termasuk memahami potensi persoalan yang dapat muncul dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi.Memahami Hubungan Dunia Usaha dan Persoalan HukumSebagai mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang ekonomi, peserta juga mendapatkan perspektif mengenai hubungan antara aktivitas usaha dengan aspek hukum.Materi “Pengusaha dan Ancaman Kriminalisasi” serta “Tindak Pidana dalam Bidang Ekonomi” memberikan gambaran mengenai irisan antara kegiatan usaha, transaksi ekonomi, dan risiko hukum yang menyertainya.Dalam praktiknya, aktivitas ekonomi tidak berdiri sendiri. Perjanjian kemitraan, perizinan usaha, pengelolaan aset, transaksi, hingga pembiayaan memiliki konsekuensi hukum yang perlu dipahami oleh pelaku usaha.Karena itu, literasi hukum menjadi salah satu bekal penting agar calon sarjana ekonomi tidak hanya mampu melihat peluang bisnis, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap kepatuhan dan mampu mengenali risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan ekonomi.Pemahaman tersebut semakin penting ketika mahasiswa nantinya terjun langsung ke masyarakat. Mereka dapat berhadapan dengan berbagai persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial, administrasi, perjanjian, hingga persoalan hukum.Tidak Hanya Teori, Mahasiswa Belajar Keterampilan PraktisPendidikan Paralegal ini juga diarahkan pada keterampilan dasar yang bersifat praktis.Peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik wawancara klien, penyusunan kronologi kasus, pembuatan surat kuasa, hingga penyusunan somasi.Keterampilan tersebut memberikan pengalaman awal kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah persoalan dapat dikumpulkan informasinya secara sistematis.Kemampuan menyusun kronologi, misalnya, membantu mahasiswa memahami pentingnya informasi yang runtut ketika menghadapi suatu persoalan. Sementara keterampilan wawancara klien memberikan gambaran mengenai bagaimana menggali informasi dari seseorang yang sedang menghadapi masalah.Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada mengenal istilah-istilah hukum, tetapi mulai diarahkan pada kemampuan memahami persoalan secara lebih tertib dan sistematis.Paralegal sebagai Bekal Pengabdian kepada MasyarakatBagi mahasiswa calon da’i, pemahaman hukum memiliki relevansi yang lebih luas.Seorang da’i nantinya tidak hanya berhadapan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga dengan realitas kehidupan masyarakat yang beragam. Persoalan keluarga, ekonomi, usaha, hubungan sosial, maupun persoalan administrasi dapat hadir dalam kehidupan masyarakat.Karena itu, kemampuan mengenali persoalan dan memahami langkah awal yang tepat menjadi bagian dari kapasitas pengabdian.Pendidikan paralegal diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa agar ketika berada di tengah masyarakat, mereka mampu melihat persoalan secara lebih komprehensif dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.Bekal ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa membantu masyarakat membutuhkan pengetahuan, ketelitian, serta kemampuan mengarahkan persoalan kepada pihak yang memiliki kewenangan atau kompetensi yang sesuai.Mengintegrasikan Ilmu Ekonomi dan Literasi HukumKegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya integrasi antara kompetensi ekonomi dan literasi hukum.STIE Hidayatullah membekali mahasiswa dengan kompetensi di bidang ekonomi, namun dalam praktik kehidupan, seorang sarjana ekonomi juga akan berhadapan dengan berbagai aturan dan konsekuensi hukum.Pemahaman terhadap aspek hukum dapat membantu mahasiswa memiliki perspektif yang lebih utuh ketika membaca aktivitas bisnis dan persoalan ekonomi masyarakat.Dalam konteks yang lebih luas, integrasi antara keahlian manajerial dan literasi hukum diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang lebih adaptif, memiliki kesadaran terhadap kepatuhan, serta mampu melakukan mitigasi terhadap risiko yang muncul dalam aktivitas ekonomi.Mempersiapkan Calon Da’i yang Hadir Memberikan SolusiPendidikan Paralegal yang menjadi bagian dari TC 40 ini pada akhirnya tidak sekadar menjadi tambahan pengetahuan bagi mahasiswa.Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas calon da’i dan calon lulusan STIE Hidayatullah agar memiliki bekal yang lebih luas sebelum terjun ke tengah masyarakat.Mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir sebagai pribadi yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memahami realitas kehidupan masyarakat dan memberikan kontribusi sesuai kapasitas yang dimiliki.Dengan bekal ilmu ekonomi, kemampuan manajerial, literasi hukum, serta pembinaan sebagai calon da’i, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi bagian dari sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat di berbagai ruang kehidupan.Pendidikan seperti ini menjadi penting karena tantangan masyarakat terus berkembang. Persoalan ekonomi dapat bersinggungan dengan hukum, persoalan sosial dapat membutuhkan pemahaman yang tepat, dan aktivitas usaha membutuhkan kepatuhan agar dapat berjalan secara sehat.Melalui Pendidikan Paralegal, mahasiswa STIE Hidayatullah Depok mendapatkan tambahan bekal untuk memahami persinggungan tersebut secara lebih sistematis.Pada akhirnya, ilmu tidak hanya dipersiapkan untuk menjawab kebutuhan akademik, tetapi juga menjadi bekal untuk hadir, memahami, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.Rep: Markom STIE, Makhfudz/HD Media
16 jam yang lalu -
Hida Mineral Jalani Resertifikasi SNI, Perkuat Komitmen terhadap Mutu dan Kepercayaan Konsumen
Depok — Air Minum Hida Mineral kembali menjalani proses Resertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga mutu produk, memenuhi regulasi yang berlaku, sekaligus membangun kepercayaan konsumen.Proses resertifikasi tersebut dilaksanakan pada 25 September 2026 di Pabrik Hida Mineral, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, dengan melibatkan 12 peserta dari pihak terkait.Dalam prosesnya, penilaian dilakukan oleh LSPro AGS, lembaga sertifikasi produk yang melakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian produk dengan standar yang dipersyaratkan.Pemeriksaan Dilakukan Secara DetailProses resertifikasi SNI berlangsung secara ketat dengan pemeriksaan secara detail terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan pemenuhan standar.Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan Hida Mineral tetap menjalankan proses produksi sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku.Resertifikasi juga menjadi bentuk evaluasi sekaligus komitmen berkelanjutan agar kualitas dan pelayanan kepada konsumen tetap terjaga.Ikuti Regulasi PemerintahDirektur Ekonomi dan Bisnis, Ust. Gani Alfianto, M.M. menyampaikan bahwa pelaksanaan resertifikasi SNI merupakan bagian dari upaya Hida Mineral untuk terus mengikuti perkembangan regulasi pemerintah.“Alhamdulillah, Air Minum Hida telah melakukan kembali sertifikasi ulang SNI. Kita disertifikasi oleh LSPro AGS untuk mensertifikasi SNI ke yang terbaru. Air Mineral Hida mengikuti regulasi pemerintah, dalam hal ini perindustrian,” ungkapnya.Menurutnya, pemenuhan standar tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek regulasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap produk Hida Mineral.“Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan dan pelayanan maksimal kepada konsumen. Makanya Air Minum Hida melakukan resertifikasi SNI,” imbuhnya.Menjaga Kepercayaan KonsumenResertifikasi SNI menjadi salah satu bentuk komitmen Hida Mineral dalam menjaga kepercayaan konsumen melalui pemenuhan standar dan regulasi yang berlaku.Bagi Hida Mineral, kualitas produk tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab dalam memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen.Melalui proses resertifikasi ini, Hida Mineral terus berupaya menjaga standar produk sekaligus memastikan keberlangsungan pelayanan yang dapat memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi masyarakat.Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Hida Mineral Pondok Pesantren Hidayatullah Depok untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas, dan menjalankan kegiatan usaha secara profesional dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
6 hari yang lalu -
SD Integral Hidayatullah Depok Raih Juara 2 Depok Futsal League 2026
Depok — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SD Integral Hidayatullah Depok. Tim futsal sekolah tersebut berhasil meraih Juara 2 Depok Futsal League (DFL) 2026, setelah tampil hingga final dalam kompetisi futsal pelajar yang mempertemukan sekolah-sekolah dari Kota Depok dan sekitarnya.DFL 2026 berlangsung pada 21–27 September 2026 di GOR Kota Depok. Kompetisi ini diikuti 72 tim dari tiga jenjang pendidikan, yakni SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA sederajat. Khusus kategori SD/MI, terdapat 16 tim yang berkompetisi.SD Integral Hidayatullah Depok menjadi salah satu peserta kategori SD/MI dan tergabung di Grup C bersama SD IAS Al Jannah, SDN Lenteng Agung 03, dan SD Muhammadiyah Sawangan.Tampil Kompetitif hingga Partai FinalPerjalanan SD Integral Hidayatullah Depok dimulai dengan kemenangan 2–0 atas SD IAS Al Jannah pada laga pembuka Grup C, Senin (21/9/2026). Hasil tersebut menjadi modal positif bagi tim untuk melanjutkan persaingan di fase berikutnya.Kompetisi berlangsung dengan atmosfer yang meriah. Dukungan dari para pendamping dan penonton membuat pertandingan semakin hidup. Di lapangan, para pemain saling menyerang dan berusaha menciptakan peluang, sehingga pertandingan berjalan kompetitif, menegangkan, sekaligus tetap menjunjung sportivitas.DFL sendiri menggunakan sistem kompetisi yang mempertemukan tim dalam fase grup sebelum berlanjut ke babak gugur. Pada kategori SD/MI, setiap pertandingan berlangsung 2 x 10 menit, dengan peserta yang berasal dari siswa kelas 4–6 SD, MI, dan sederajat.Perjalanan SD Integral Hidayatullah akhirnya membawa tim sampai ke partai final yang digelar pada 27 September 2026. Dalam laga puncak tersebut, SD Integral Hidayatullah menghadapi SDN Lenteng Agung 03.Pertandingan berlangsung sengit hingga akhirnya SD Integral Hidayatullah harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 2–4. Hasil tersebut menempatkan SD Integral Hidayatullah sebagai Juara 2 DFL 2026 kategori SD/MI.Bukan Sekadar Mengejar GelarKepala SD Integral Hidayatullah Depok, Ust. Abdurrahman Hakim, M.Pd., mengapresiasi perjuangan para siswa yang telah memberikan kemampuan terbaik selama kompetisi.Menurutnya, keikutsertaan dalam kompetisi futsal menjadi bagian dari proses pendidikan yang tidak hanya mengembangkan kemampuan olahraga, tetapi juga membentuk karakter siswa.“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas capaian anak-anak yang berhasil meraih Juara 2 di Depok Futsal League. Yang paling penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi proses yang mereka jalani. Mereka belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sportivitas, dan bagaimana menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sikap yang baik,” ujarnya.Ia berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.“Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi anak-anak untuk terus berlatih dan berkembang. Kami juga berharap mereka memahami bahwa prestasi adalah buah dari proses, latihan, kekompakan, dan doa. Sekolah akan terus mendukung potensi siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik,” tambahnya.Coach: Anak-Anak Belajar Menghadapi Tekanan PertandinganSementara itu, Ust. Hamam, selaku coach sekaligus guru ekstrakurikuler futsal SD Integral Hidayatullah Depok, menilai perjalanan tim dalam DFL 2026 memberikan banyak pengalaman berharga bagi para pemain.Menurutnya, pertandingan yang kompetitif membuat siswa belajar bagaimana tetap fokus ketika menghadapi tekanan dan situasi pertandingan yang berubah dengan cepat.“Kesan saya tentu sangat bangga melihat perjuangan anak-anak. Mereka tidak hanya bermain, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sebagai tim. Di pertandingan ada momen ketika kita unggul, tertekan, bahkan harus mengejar ketertinggalan. Dari situ anak-anak belajar tetap fokus, saling mendukung, dan tidak mudah menyerah,” ungkapnya.Ia juga menilai pengalaman bertanding melawan sekolah-sekolah lain menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.“DFL ini pengalaman yang sangat bagus untuk anak-anak. Mereka bisa merasakan atmosfer kompetisi yang serius, bertemu tim-tim lain, dan mengukur kemampuan mereka. Juara 2 tentu kita syukuri, tetapi yang lebih penting adalah pengalaman dan karakter yang terbentuk selama proses latihan sampai pertandingan,” jelasnya.Arkan: Tegang, Seru, dan Bangga Bisa Sampai FinalSalah satu pemain SD Integral Hidayatullah Depok, Arkan, siswa kelas 6, mengaku pertandingan DFL menjadi pengalaman yang sangat berkesan.Ia merasakan suasana pertandingan yang berbeda karena setiap tim sama-sama memberikan perlawanan dan berusaha mencetak gol.“Seru banget dan cukup tegang, apalagi waktu pertandingan sudah masuk babak akhir. Kami saling menyerang dan berusaha mencetak gol. Dukungan teman-teman juga membuat kami semakin semangat,” kata Arkan.Meski harus puas sebagai Juara 2, Arkan mengaku tetap bangga dengan perjuangan timnya.“Kami tentu ingin juara satu, tetapi kami tetap bersyukur bisa sampai final dan mendapat juara dua. Dari pertandingan ini saya belajar bahwa bermain futsal itu bukan cuma soal mencetak gol, tapi juga harus kompak, saling percaya, dan tetap sportif,” ujarnya.Prestasi yang Tumbuh dari ProsesDFL merupakan liga futsal pelajar tahunan yang mempertemukan sekolah-sekolah dari Kota Depok dan sekitarnya. Kompetisi ini diperuntukkan bagi tiga jenjang pendidikan dan diselenggarakan dengan standar semi-profesional, termasuk penggunaan wasit bersertifikat, verifikasi keabsahan pelajar, statistik pertandingan, serta siaran langsung melalui kanal resmi. Musim 2026 memperebutkan total hadiah pembinaan sebesar Rp50 juta serta Piala Bergilir King of Futsal Depok.Bagi SD Integral Hidayatullah Depok, capaian sebagai Juara 2 DFL 2026 menjadi bukti bahwa proses pembinaan olahraga di sekolah dapat berjalan beriringan dengan pendidikan karakter.Sebab, di balik pertandingan, gol, kemenangan, dan trofi, terdapat proses panjang yang mengajarkan anak-anak tentang disiplin, kerja sama, keberanian menghadapi tekanan, sportivitas, serta semangat untuk terus belajar dari setiap pertandingan.Prestasi tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan meraih prestasi melalui bidang yang mereka tekuni.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
4 hari yang lalu -
Mahasiswa STIE Hidayatullah Dibekali Keterampilan Dasar Paralegal untuk Hadapi Persoalan Hukum Masyarakat
Depok — Mahasiswa STIE Hidayatullah Depok dibekali pengetahuan hukum dan keterampilan dasar paralegal melalui Pendidikan Paralegal yang diselenggarakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah pada 21–24 September 2026.Kegiatan ini menjadi ruang literasi hukum yang penting dalam pembentukan kapasitas mahasiswa, khususnya bagi mereka yang kelak akan berinteraksi dan berkiprah langsung di tengah masyarakat.Pendidikan Paralegal tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pemusatan Pengaderan (TC 40) Mahasiswa Calon Da’i dan Wisudawan STIE Hidayatullah Depok Tahun 2026.Program tidak hanya diarahkan pada pemahaman konseptual mengenai hukum, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan awal untuk mengenali, mendokumentasikan, dan merespons persoalan hukum secara lebih tertib dan sistematis.Mengenal Dasar Hukum Pidana dan PerdataDirektur Utama LBH Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menjadi salah satu pemateri utama pada hari pertama Pendidikan Paralegal.Materi yang disampaikan berangkat dari berbagai persoalan hukum yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari hukum pidana dan perdata, potensi kriminalisasi, bantuan hukum, hingga posisi lembaga bantuan hukum dalam sistem akses terhadap keadilan.Pada sesi tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan karakteristik dua ranah hukum, yakni pidana dan perdata, sekaligus bagaimana mengidentifikasi suatu persoalan berdasarkan jenis perkara yang dihadapi.Pemahaman terhadap kerangka dasar tersebut menjadi bagian penting sebelum seseorang memasuki tahapan pendampingan yang lebih teknis. Dengan mengenali jenis dan karakter persoalan sejak awal, mahasiswa diharapkan memiliki cara pandang yang lebih tertib ketika menghadapi permasalahan hukum di tengah masyarakat.Mengenali Potensi KriminalisasiPembahasan kemudian diperluas pada situasi ketika seseorang berhadapan dengan proses hukum dan menghadapi potensi kriminalisasi.Mahasiswa diarahkan untuk memahami suatu persoalan secara cermat, termasuk melihat konsekuensi hukum yang mungkin muncul dalam kehidupan sosial maupun aktivitas ekonomi.Perspektif tersebut semakin relevan melalui materi “Pengusaha dan Ancaman Kriminalisasi” serta “Tindak Pidana dalam Bidang Ekonomi”.Melalui materi tersebut, peserta diperkenalkan pada irisan antara aktivitas usaha, transaksi ekonomi, dan berbagai risiko hukum yang dapat menyertainya.Bekal ini menjadi relevan bagi mahasiswa STIE Hidayatullah yang memiliki latar belakang keilmuan ekonomi dan bisnis. Pemahaman hukum diharapkan dapat membantu mahasiswa melihat persoalan ekonomi tidak hanya dari sisi aktivitas dan peluang usaha, tetapi juga dari aspek kepatuhan serta konsekuensi hukum.Dari Literasi Hukum Menuju Keterampilan PraktisPendidikan Paralegal kemudian diarahkan pada keterampilan dasar yang dapat digunakan ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat.Peserta mempelajari sejumlah teknik dasar, di antaranya wawancara klien, penyusunan kronologis kasus, pembuatan surat kuasa, hingga penyusunan somasi.Keterampilan tersebut memberikan pengalaman awal bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah persoalan hukum dikumpulkan informasinya, disusun secara kronologis, kemudian dituangkan dalam dokumen yang lebih sistematis.Dengan demikian, pendidikan ini tidak berhenti pada penguasaan istilah atau teori hukum, tetapi mulai memperkenalkan peserta pada proses kerja dasar seorang paralegal dalam memahami dan mendokumentasikan persoalan.Memperluas Kapasitas Pengabdian Calon Da’iPendidikan Paralegal menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas mahasiswa calon da’i dan calon lulusan STIE Hidayatullah Depok.Sebagai calon kader yang nantinya akan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, mahasiswa tidak hanya membutuhkan bekal keagamaan dan keilmuan sesuai bidang studinya, tetapi juga kemampuan membaca berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.Literasi hukum dan keterampilan dasar paralegal memberikan perspektif tambahan agar mahasiswa mampu memahami persoalan secara lebih sistematis, terutama ketika permasalahan masyarakat bersinggungan dengan aspek hukum dan ekonomi.Melalui rangkaian Pendidikan Paralegal ini, mahasiswa diharapkan memiliki bekal awal untuk mengenali persoalan, memahami posisi hukum suatu perkara, mendokumentasikan informasi secara tertib, serta mengetahui langkah dasar yang dapat dilakukan ketika masyarakat menghadapi persoalan hukum.Pada akhirnya, pendidikan tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga kesiapan untuk hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi.Rep: Markom STIE, Makhfudz/HD Media
1 minggu yang lalu -
Cetak Biru Manusia Sempurna: Lima Teladan Rasulullah untuk Menjawab Tantangan Kehidupan Modern
Depok — Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bukan hanya sosok yang dicintai umat Islam, tetapi juga teladan utama dalam menjalani kehidupan. Keteladanan beliau mencakup berbagai aspek, mulai dari menghadapi ujian, mengendalikan emosi, membangun hubungan sosial, memperlakukan keluarga, hingga memperkuat hubungan dengan Allah SWT.Pesan tersebut menjadi inti materi “Cetak Biru Manusia Sempurna: Menemukan Resiliensi, Kedamaian, dan Kekuatan Spiritual di Era Modern” dalam rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Materi ini ditujukan bagi guru, karyawan, wali murid, dan masyarakat, dengan mengajak peserta menjadikan Rasulullah SAW sebagai role model dalam kehidupan sehari-hari.Rasulullah SAW sebagai Role Model KehidupanMateri tersebut mengangkat QS. Al-Ahzab ayat 21 yang menegaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat suri teladan yang baik (uswah hasanah) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kehidupan akhirat serta banyak mengingat Allah.Karena itu, ketika manusia membutuhkan sosok yang dapat menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan, Rasulullah SAW merupakan teladan yang dapat dijadikan acuan. Materi tersebut menyebut Rasulullah SAW sebagai “cetak biru manusia paling sempurna”, yakni gambaran ideal yang dapat dijadikan rujukan dalam membentuk kualitas diri.Dari keteladanan tersebut, terdapat lima aspek utama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu resiliensi, kendali amarah, kerukunan sosial, keluarga, dan kedekatan kepada Allah.1. Belajar Resiliensi dari Perjalanan Hidup RasulullahRasulullah SAW menghadapi berbagai ujian berat sepanjang perjalanan hidup dan dakwahnya. Beliau yatim sejak lahir, kehilangan ibunda di usia enam tahun, kemudian kehilangan kakek yang mengasuhnya. Dalam perjalanan dakwah, Rasulullah SAW juga menghadapi pemboikotan, kelaparan, pengusiran hingga perlakuan kasar.Salah satu ujian berat terjadi ketika dakwah ke Tha’if. Rasulullah SAW ditolak dan dilempari batu hingga mengalami luka.Namun, ketika malaikat penjaga gunung menawarkan untuk menghimpit kaum Tha’if dengan dua gunung, Rasulullah SAW menolak. Beliau justru berharap dari keturunan mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah SWT.Kisah tersebut menggambarkan daya tahan Rasulullah SAW dalam menghadapi tekanan. Bagi kehidupan hari ini, pesan yang dapat diambil adalah menghadapi tekanan dan ujian dengan kesabaran, bukan dengan keputusasaan.2. Kekuatan Sejati adalah Mampu Mengendalikan AmarahTeladan kedua adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mengendalikan diri dan menjaga lisan.Pesan sederhana Rasulullah SAW kepada seorang sahabat yang meminta wasiat adalah “Laa Taghdhab” — jangan marah. Pesan tersebut bahkan diulang beberapa kali. Dalam hadis lain dijelaskan bahwa orang kuat bukanlah semata-mata orang yang mampu mengalahkan lawannya secara fisik, melainkan orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.Materi juga mengangkat kisah seorang Badui yang menarik selendang Rasulullah SAW dengan kasar hingga meninggalkan bekas pada leher beliau. Rasulullah SAW tidak membalas dengan kemarahan, tetapi justru tersenyum dan memerintahkan sahabat untuk memberikan gandum kepadanya.Keteladanan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, maupun bermasyarakat. Kemampuan mengendalikan emosi menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan dengan sesama.3. Membangun Kerukunan SosialRasulullah SAW juga memberikan perhatian besar terhadap hubungan antarmanusia, khususnya dalam memuliakan tetangga dan sesama.Materi mengingatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umat untuk menyayangi yang muda dan menghormati yang lebih tua. Bahkan, besarnya perhatian terhadap hak tetangga digambarkan melalui pesan Malaikat Jibril yang terus-menerus disampaikan kepada Rasulullah SAW hingga beliau mengira tetangga akan mendapatkan bagian warisan.Karena itu, kehidupan sosial tidak cukup hanya dengan menjaga diri dari gangguan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan membangun hubungan yang baik dengan lingkungan.Salah satu praktik sederhana yang ditekankan adalah menjauhi hasad kepada tetangga. Ketika melihat tetangga mendapatkan nikmat, seorang Muslim dianjurkan menyambutnya dengan ucapan “Masyaallah, Tabarakallah.”4. Menjadi Pribadi Terbaik bagi KeluargaKeteladanan Rasulullah SAW juga terlihat jelas dalam kehidupan keluarga.Materi mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah SAW juga membantu pekerjaan rumah, menjahit pakaian yang sobek, memperbaiki sandal, serta memerah susu kambing. Ketika waktu shalat tiba, beliau kemudian keluar untuk menunaikan shalat.Hal tersebut menunjukkan bahwa keteladanan tidak hanya ditampilkan di ruang publik, tetapi justru dimulai dari rumah.Bahkan, kasih sayang Rasulullah SAW kepada keluarga juga tergambar dari cara beliau memanggil Aisyah RA dengan panggilan “Ya Humaira”, sebuah panggilan penuh kasih yang menunjukkan bahwa perhatian dan komunikasi sederhana dapat menjadi bagian dari cara merawat cinta di dalam keluarga.5. Memperkuat Kedekatan kepada AllahAspek terakhir adalah spiritualitas dan kedekatan kepada Allah SWT.Rasulullah SAW memberikan contoh luar biasa dalam ibadah. Salah satunya melalui shalat malam yang dilakukan dengan penuh kesungguhan. Aisyah RA meriwayatkan bahwa telapak kaki Rasulullah SAW sampai bengkak karena panjangnya shalat malam.Ketika Aisyah RA bertanya mengapa beliau melakukan hal tersebut, padahal dosa beliau telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah pantas aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”Pesan ini menjadi refleksi bagi manusia modern. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan dekat dengan teknologi, manusia sering memastikan perangkatnya selalu memiliki daya, tetapi lupa mengisi kembali energi spiritualnya.Materi tersebut memberikan refleksi sederhana: jika HP selalu di-charge hingga 100 persen, sudahkah hati kita di-charge melalui ibadah dan sepertiga malam?Dari Cinta kepada Rasulullah Menuju Praktik KehidupanMateri “Cetak Biru Manusia Sempurna” tidak berhenti pada kisah dan sejarah Rasulullah SAW, tetapi diarahkan pada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apa yang dapat kita praktikkan dari keteladanan Rasulullah SAW?Guru diajak menghadapi murid dengan kesabaran sebagaimana Rasulullah SAW menghadapi penolakan masyarakat Tha’if. Karyawan diajak menjaga lisan dan meredam amarah ketika tekanan pekerjaan meningkat. Orang tua diajak menjadi pribadi terbaik bagi keluarganya. Sementara masyarakat diajak memuliakan tetangga, menjauhi hasad, dan kembali merajut silaturahmi.Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbarui komitmen dalam mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau.Cinta kepada Rasulullah SAW yang telah melintasi jarak dan waktu perlu diwujudkan dalam perilaku nyata: lebih sabar ketika menghadapi ujian, lebih mampu mengendalikan amarah, lebih baik kepada sesama, lebih hangat kepada keluarga, dan semakin dekat kepada Allah SWT.Semoga kecintaan kepada Rasulullah SAW terus tumbuh dan mengantarkan umat untuk menjadi pribadi yang mampu menghadirkan kedamaian, memiliki ketahanan menghadapi kehidupan, serta kuat secara spiritual di tengah tantangan zaman.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 minggu yang lalu -
Maulid Nabi di Hidayatullah Depok, Jamaah Rumah Qur’an An-Najm Diajak Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan Kehidupan
Depok — Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus mempererat silaturahmi antara Pondok Pesantren Hidayatullah Depok dengan masyarakat sekitar.Hal tersebut tergambar dalam kegiatan Silaturahmi sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar bersama jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad (20/9/2026).Bertempat di Aula Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok, kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Sekitar 300 peserta hadir, terdiri dari para asatidz, mitra juang YPPH Depok, serta jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm.Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan hadrah, dilanjutkan pembacaan Surah Al-Baqarah dan Surah Yasin, kemudian tausiyah dan penguatan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.Maulid sebagai Momentum Memperkuat Cinta kepada RasulullahKetua Departemen Dakwah YPPH Depok, Ust. Abdul Rohim, M.M., menyampaikan rasa syukur sekaligus ucapan selamat datang kepada seluruh jamaah yang hadir di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.“Alhamdulillah, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta di kampus kami di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Alhamdulillah hari ini kita melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meskipun bulannya sudah lewat, tetapi ini tetap kita laksanakan sebagai bukti bahwa kita mencintai Rasulullah SAW,” ungkapnya.Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antara pesantren dengan masyarakat sekitar.“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang biasa diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan warga sekitar, dan jamaah Rumah Qur’an dan Majelis Qur’an An-Najm sebagai salah satu binaan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok,” tuturnya.Ust. Abdul Rohim juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan, khususnya para jamaah dan donatur yang memberikan dukungan.“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini, para ibu-ibu jamaah yang sangat semangat dan telah berjibaku, serta seluruh pihak dan para donatur yang telah memberikan support baik secara moril maupun materil,” imbuhnya.Rasulullah SAW, Cetak Biru Manusia SempurnaHadir sebagai pemateri, Ust. Dr. Mudzakkir Usman, PhD., Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, mengajak jamaah untuk tidak menjadikan Maulid Nabi sebatas kegiatan seremonial.Dalam paparannya bertajuk “Cetak Biru Manusia Sempurna: Menemukan Resiliensi, Kedamaian, dan Kekuatan Spiritual di Era Modern”, beliau mengajak peserta melihat kehidupan Rasulullah SAW sebagai teladan yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan saat ini.Materi tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan role model dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 21, Rasulullah SAW ditempatkan sebagai uswah hasanah, sehingga keteladanan beliau dapat menjadi rujukan dalam membangun kualitas pribadi, keluarga, dan kehidupan bermasyarakat.Ust. Mudzakkir kemudian menguraikan lima teladan utama Rasulullah SAW yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu resiliensi atau daya tahan menghadapi ujian, kemampuan mengendalikan amarah, membangun kerukunan sosial, menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.Belajar Tangguh dari Rasulullah SAWSalah satu pesan penting yang disampaikan adalah tentang ketangguhan Rasulullah SAW dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.Rasulullah SAW mengalami berbagai ujian berat sejak masa kanak-kanak hingga perjalanan dakwahnya. Beliau pernah mengalami kehilangan orang-orang yang dicintai, tekanan, pemboikotan, bahkan penolakan dan kekerasan dalam dakwah.Namun, ketika menghadapi penolakan masyarakat Tha'if, Rasulullah SAW tidak memilih membalas dengan keburukan. Beliau justru berharap agar kelak dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah SWT. Kisah tersebut menjadi gambaran tentang keteguhan, kesabaran, dan keluasan hati seorang Rasul.Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat modern agar setiap tekanan kehidupan dihadapi dengan kesabaran, keteguhan, dan tetap menjaga orientasi kepada Allah SWT.Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah MarahTeladan berikutnya adalah kemampuan Rasulullah SAW dalam mengendalikan amarah dan menjaga lisan.Dalam materi disebutkan pesan Rasulullah SAW, “Laa Taghdhab” atau “Jangan marah.” Kekuatan seseorang bukan semata-mata diukur dari kemampuan fisiknya, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika berada dalam kondisi marah.Pesan ini menjadi pengingat bagi jamaah bahwa kehidupan sehari-hari, baik di dalam keluarga maupun lingkungan sosial, membutuhkan kemampuan mengelola emosi agar hubungan tetap terjaga.Menjadi Pribadi yang Menghadirkan Rasa AmanDalam kehidupan bermasyarakat, Rasulullah SAW juga memberikan teladan dalam memuliakan tetangga dan menjaga hubungan sosial.Materi kajian mengingatkan pentingnya menyayangi yang muda, menghormati yang lebih tua, serta memastikan orang-orang di sekitar merasa aman dari gangguan kita.Nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, termasuk menjauhi hasad dan membangun kembali silaturahmi di tengah masyarakat.Keteladanan Rasulullah Dimulai dari RumahUst. Mudzakkir juga mengajak jamaah melihat bagaimana Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam kehidupan keluarga.Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang memberikan perhatian kepada keluarganya. Dalam materi kajian disebutkan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah, memperbaiki keperluan pribadi, serta menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keteladanan Nabi tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial dan dakwah, tetapi juga dalam interaksi sederhana bersama keluarga.Mengisi Kembali Ruhiyah di Tengah KesibukanTeladan terakhir yang ditekankan adalah kedekatan kepada Allah SWT.Rasulullah SAW memberikan contoh dalam kesungguhan beribadah, termasuk shalat malam. Dalam materi kajian, Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam hingga telapak kakinya mengalami pembengkakan. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal tersebut padahal dosa-dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab dengan semangat syukur kepada Allah.Pesan ini kemudian dikaitkan dengan kehidupan manusia modern yang begitu dekat dengan teknologi. Sebagaimana perangkat selalu diisi ulang agar tetap memiliki daya, hati manusia juga membutuhkan penguatan melalui ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT.Dari Maulid Menuju Perubahan NyataMelalui kajian tersebut, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kecintaan secara lisan, tetapi melahirkan perubahan dalam perilaku sehari-hari.Guru diajak meneladani kesabaran Rasulullah SAW dalam menghadapi peserta didik, karyawan menjaga lisan dan mengendalikan amarah ketika menghadapi tekanan pekerjaan, orang tua menjadi pribadi terbaik bagi keluarga, serta masyarakat menjaga hubungan baik dengan tetangga dan mempererat silaturahmi.Dengan demikian, Maulid Nabi menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana keteladanan Rasulullah SAW hadir dalam kehidupan kita?Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar kecintaan kepada Rasulullah SAW semakin tumbuh, sekaligus menjadi jalan bagi seluruh jamaah untuk semakin dekat kepada Allah SWT dan istiqamah mengikuti sunnah beliau.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 minggu yang lalu -
Bukan Sekadar Kuliah, STIE Hidayatullah Bangun Ekosistem Pendidikan yang Berdampak
Depok — Pendidikan tinggi tidak cukup hanya melahirkan lulusan dengan ijazah dan kemampuan akademik. Lebih dari itu, pendidikan diharapkan mampu membentuk manusia yang memiliki integritas, karakter, keterampilan profesional, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Semangat inilah yang terus dikembangkan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah melalui pembangunan ekosistem pendidikan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan akademik, pembinaan nilai, pengembangan keterampilan, kehidupan berasrama, hingga pengabdian kepada masyarakat.Hal tersebut tercermin dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 yang tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru, tetapi menjadi pintu masuk untuk mengenalkan budaya akademik dan visi pendidikan STIE Hidayatullah.Mengusung tema “Mewujudkan Kampus Berdampak Menuju Peradaban Islam yang Berkemajuan”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kampus dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu memahami tanggung jawab keilmuan sekaligus memiliki orientasi kebermanfaatan.Kampus Bukan Sekadar Tempat Mendapatkan IjazahSTIE Hidayatullah memandang mahasiswa bukan sekadar konsumen pendidikan. Sejak awal masa perkuliahan, mahasiswa diarahkan untuk menjadi bagian dari sivitas akademika yang mampu belajar secara mandiri, berpikir kritis, mengembangkan pengetahuan, serta menggunakan ilmu yang dimiliki untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.Konsep tersebut dibangun melalui pemahaman terhadap Tridarma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.Dengan demikian, proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat diterjemahkan menjadi karya, solusi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.Boarding School, Belajar Tidak Berhenti di Ruang KelasSalah satu kekuatan yang dikembangkan STIE Hidayatullah adalah model pendidikan mahasiswa berasrama atau student housing.Program ini tidak sekadar menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa. Kehidupan asrama menjadi bagian dari proses pendidikan yang memadukan pembinaan nilai, kedisiplinan, spiritualitas, keterampilan profesional, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.Mahasiswa menjalani proses pembinaan dalam kehidupan sehari-hari sehingga nilai-nilai yang dipelajari tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dipraktikkan dalam keseharian.Model pendidikan seperti ini membuat ruang belajar menjadi lebih luas. Kampus menjadi tempat menimba ilmu, sementara asrama menjadi ruang untuk melatih karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kemampuan berinteraksi.Bahkan, bagi mahasiswa program boarding, pembinaan dirancang secara intensif selama enam bulan, mulai 3 Agustus 2026 hingga 30 Januari 2027.Membuka Akses Pendidikan bagi Generasi PotensialEkosistem pendidikan yang dibangun STIE Hidayatullah juga diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi mahasiswa potensial yang menghadapi keterbatasan ekonomi.Pada April 2026, STIE Hidayatullah bersama DPW Hidayatullah Jawa Barat menyepakati program beasiswa pendidikan tinggi dengan skema 20 mahasiswa melalui program asrama.Program tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjadikan pendidikan tinggi sebagai instrumen mobilitas sosial. Pendidikan tidak hanya menjadi sarana peningkatan kompetensi, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan memutus keterbatasan ekonomi antargenerasi. (STIE Hidayatullah)Dari Kampus untuk MasyarakatOrientasi pendidikan STIE Hidayatullah pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan penting: kebermanfaatan.Pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara akademik. Ia juga harus melahirkan pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, serta siap mengembalikan manfaat ilmu yang diperolehnya kepada masyarakat.Karena itu, pendidikan, kehidupan asrama, dan Tridarma Perguruan Tinggi dipandang sebagai satu kesatuan dalam membangun ekosistem pendidikan yang berdampak.Semangat tersebut sejalan dengan visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan dan profesional, tetapi juga memiliki nilai, karakter, dan orientasi pengabdian.Dengan ekosistem tersebut, STIE Hidayatullah terus berikhtiar menjadikan kampus bukan sekadar tempat kuliah, asrama bukan sekadar tempat tinggal, dan ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi semuanya menjadi bagian dari proses melahirkan generasi yang mampu berilmu, berkarakter, mandiri, dan memberikan manfaat bagi umat serta masyarakat luas.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
DPRD Mengabdi, Hj. Elly Farida Bekali Santri YPPH Depok dengan Pendidikan Demokrasi
DEPOK, Hidayatullah Depok — Pendidikan demokrasi tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang pemerintahan. Nilai-nilai demokrasi justru dapat ditanamkan sejak dini melalui lingkungan pendidikan, kehidupan berasrama, hingga aktivitas sehari-hari.Semangat itulah yang hadir dalam kegiatan “DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi Tahun Anggaran 2026” bersama Hj. Elly Farida, S.Pd., Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Bidang Kesejahteraan Rakyat, yang digelar di Aula Abdullah Said, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jumat (21/8/2026).Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri dari murid MA Hidayatullah Putra dan Putri serta mahasiswi STIE Hidayatullah Depok.Berbeda dengan pembelajaran demokrasi yang hanya berbicara mengenai sistem pemerintahan dan politik, kegiatan ini mengajak peserta melihat demokrasi dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Mulai dari bagaimana menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, bermusyawarah, mengambil keputusan bersama, hingga menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari sebuah kelompok.Suasana kegiatan berlangsung penuh antusias. Peserta tidak hanya menyimak materi yang disampaikan, tetapi juga aktif menjawab pertanyaan pemateri dan mengajukan berbagai pertanyaan. Interaksi dua arah membuat pembahasan demokrasi terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta sebagai pelajar dan mahasiswa.Hj. Elly Farida, S.Pd., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin bersama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berkolaborasi dengan pihak Hidayatullah dalam rangka kegiatan DPRD Mengabdi dalam Pendidikan Demokrasi.”Beliau juga menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme para peserta. Menurutnya, pendidikan demokrasi penting diberikan kepada generasi muda karena mereka merupakan calon pemimpin yang akan menentukan arah masa depan bangsa.“Alhamdulillah, antusias dari anak-anak sangat luar biasa sekali. Kami menginginkan anak-anak tumbuh sesuai harapan kita karena mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan.”Demokrasi Dimulai dari Lingkungan TerdekatBagi peserta, kegiatan tersebut memberikan perspektif baru bahwa demokrasi ternyata tidak hanya berbicara tentang pemilu, pemerintahan, atau lembaga negara.Hal itu dirasakan Fuad, salah satu peserta dari MA Hidayatullah. Ia mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai bagaimana demokrasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bagus sekali. Saya jadi lebih tahu ternyata demokrasi itu bukan hanya ada di pemerintahan saja, tapi juga ada di sekitar kita seperti di sekolah dalam pemilihan OSIS, dalam kerja kelompok, dan lain-lain.”Ia juga mengapresiasi cara penyampaian materi yang interaktif sehingga lebih mudah dipahami oleh peserta.“Pemateri dan materi yang disampaikan juga alhamdulillah bagus, penyampaiannya mudah dipahami sehingga mudah dimengerti.”Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk sinergi antara lembaga legislatif dan dunia pendidikan dalam memberikan wawasan kebangsaan kepada generasi muda.Di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemampuan hidup bersama. Karena itu, pengenalan nilai-nilai demokrasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang mampu berkontribusi di tengah masyarakat.Dari ruang kelas, organisasi pelajar, kerja kelompok hingga kehidupan pesantren, peserta belajar bahwa demokrasi bukan sekadar teori. Ia adalah sikap untuk mau mendengar, berani menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, bermusyawarah, dan siap bertanggung jawab atas keputusan yang diambil bersama.Sebab, calon pemimpin masa depan tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk memimpin, tetapi juga membutuhkan karakter untuk mendengar dan menghargai orang lain.Rep: Makhfudz/HD Media Editor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
Pesantren Hidayatullah Depok Dipuji Pendamping Manasik Haji Anak Sholeh: Luas, Asri, dan Nyaman untuk Belajar
Depok — Kegiatan Manasik Haji Anak Sholeh 2026 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok tidak hanya mendapat sambutan antusias dari ratusan anak peserta, tetapi juga menuai apresiasi positif dari para guru dan pendamping sekolah yang hadir.Sebanyak 27 sekolah PAUD-TK dari wilayah Cilodong, Cibinong, dan Pondok Rajeg mengikuti rangkaian manasik yang digelar di kawasan Alun-alun Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Selain rangkaian kegiatan yang dinilai edukatif dan sistematis, kondisi lingkungan pesantren yang luas, asri, dan nyaman menjadi salah satu hal yang banyak mendapat perhatian dari para pendamping.Bagi mereka, lingkungan yang mendukung menjadi nilai tambah tersendiri, terutama karena peserta kegiatan merupakan anak-anak usia dini yang membutuhkan ruang yang aman, nyaman, dan tidak membuat mereka cepat lelah saat mengikuti rangkaian pembelajaran.Luas dan Asri, Anak Lebih Nyaman Mengikuti ManasikBunda Imah, pendamping dari TKIT Rabbani, mengungkapkan bahwa kegiatan manasik di Hidayatullah Depok telah menjadi pengalaman yang kembali mereka pilih untuk kedua kalinya.“Alhamdulillah ini tahun kedua kami mengikuti manasik di sini. Salah satunya karena lokasinya dekat, kemudian kegiatannya juga tersusun dan sistematis, seperti pelaksanaan aslinya, mulai dari thawaf sampai minum air zam-zam. Anak-anak jadi lebih mudah mengikuti dan menikmati prosesnya,” tuturnya.Menurutnya, pelaksanaan yang terstruktur membuat anak-anak dapat mengikuti setiap tahapan dengan lebih mudah dan tidak merasa kebingungan.Apresiasi terhadap kondisi lingkungan juga disampaikan Bunda Bani, yang juga merupakan pendamping dari TKIT Rabbani.“Alhamdulillah lingkungannya sangat asri dan tempatnya luas, sehingga anak-anak merasa nyaman dan aman mengikuti manasik haji di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Tempatnya luas dan kami juga sangat puas dengan pelayanannya,” ungkapnya.Belajar Tanpa Takut Kepanasan, Suasana Jadi Lebih MenyenangkanKondisi lingkungan yang sejuk juga menjadi perhatian Bunda Heni. Menurutnya, suasana pesantren yang hijau dan nyaman membuat kegiatan manasik terasa lebih menyenangkan bagi anak-anak.“Alhamdulillah manasik haji di Pondok Pesantren Hidayatullah sangat menarik sekali. Kegiatannya sistematis dan terarah, anak-anak juga tidak bosan. Tempatnya bagus, lingkungannya sejuk dan asri, sehingga anak-anak tidak kepanasan saat mengikuti manasik. Pokoknya the best buat Pesantren Hidayatullah,” tuturnya.Hal tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan yang baik bukan hanya memberikan kenyamanan secara fisik, tetapi juga mendukung proses belajar anak agar tetap fokus dan menikmati setiap pengalaman yang diberikan.Bukan Sekadar Tempat Acara, tetapi Ruang Belajar AnakApresiasi berikutnya datang dari Bunda Hasna dan Bunda Khonsa, pendamping dari TAUD Daarul Ittiba’. Keduanya menyampaikan terima kasih atas fasilitas yang diberikan kepada anak-anak PAUD untuk mengenal salah satu rukun Islam sejak dini.“Kami dari TAUD Daarul Ittiba’ mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran yang telah memfasilitasi anak-anak jenjang PAUD untuk mengikuti kegiatan manasik haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah, semoga menjadi keberkahan untuk semuanya,” ungkap mereka.Bagi para pendamping, pengalaman mengikuti manasik di Hidayatullah Depok menjadi lebih bermakna karena anak-anak tidak hanya mendapatkan pembelajaran tentang ibadah haji, tetapi juga merasakan suasana belajar di lingkungan pesantren yang luas dan alami.Hidayatullah Depok, Lingkungan Edukatif yang Mendukung PembelajaranBerbagai testimoni tersebut memperlihatkan bahwa lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menjadi salah satu daya tarik dalam penyelenggaraan kegiatan edukatif, khususnya untuk anak usia dini.Area yang luas memberikan ruang gerak yang lebih leluasa bagi peserta, sementara suasana hijau dan asri membuat kegiatan di luar ruangan terasa lebih nyaman. Kombinasi antara lingkungan yang mendukung, rangkaian kegiatan yang sistematis, serta pelayanan panitia menjadi pengalaman positif yang dirasakan para guru dan pendamping.Bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, apresiasi tersebut menjadi dorongan untuk terus menjaga lingkungan pesantren sebagai ruang pendidikan yang aman, nyaman, asri, dan ramah bagi peserta didik.Sebab, pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan yang baik juga menjadi bagian dari proses belajar, tempat anak mengenal dunia, membangun pengalaman, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu serta nilai-nilai Islam.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
Dari Pesantren Belajar Jadi Pengusaha, Cendol Santri Hidayatullah Depok Ludes 90 Cup Kurang dari Dua Jam
Depok — Siapa bilang belajar menjadi pengusaha harus menunggu lulus sekolah? Para santri kelas XII Pondok Pesantren Hidayatullah Depok membuktikannya melalui Cendol Santri, sebuah usaha yang mereka kelola dalam bazar Manasik Haji Anak Sholeh PAUD-TK Yaa Bunayya Hidayatullah Depok, Sabtu (22/08/2026).Tak disangka, 90 cup Cendol Santri berhasil terjual habis dalam waktu kurang dari dua jam. Antusiasme pengunjung yang tinggi membuat para santri harus bergerak cepat melayani pembeli, mengatur stok, menjaga kualitas produk, hingga memastikan seluruh pesanan dapat dilayani dengan baik.Lebih dari sekadar mengejar angka penjualan, kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi para santri untuk mengenal dunia kewirausahaan. Mulai dari menyiapkan produk, mengelola stand, berkomunikasi dengan konsumen, bekerja sama dalam tim, hingga menghitung hasil penjualan, semuanya dijalankan langsung oleh para santri.Tidak Hanya Belajar di Dalam KelasKegiatan Cendol Santri menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang mempertemukan ilmu dengan pengalaman nyata. Para santri belajar bahwa keterampilan kewirausahaan tidak cukup hanya dipahami melalui teori, tetapi perlu dilatih melalui praktik.Dalam prosesnya, mereka dituntut untuk berani berkomunikasi, mengambil keputusan, berbagi tugas, serta bertanggung jawab terhadap usaha yang dijalankan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan mental entrepreneurship dan kemandirian yang diharapkan dapat menjadi bekal setelah mereka menyelesaikan pendidikan di pesantren.Kepala Unit SMP-MA Hidayatullah Depok, Ust. Amin Fawaid, M.M., menyampaikan apresiasinya atas inisiatif para santri tersebut.“Alhamdulillah, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun mental kewirausahaan dan kemandirian santri. Anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung bagaimana sebuah usaha direncanakan, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan. Dari sini mereka belajar keberanian, kerja sama, pelayanan, sekaligus bagaimana melihat peluang,” ungkap beliau.Beliau berharap pengalaman tersebut dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari pembinaan keterampilan hidup para santri.“Apa yang dilakukan hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi prosesnya sangat berharga. Semoga dari pengalaman ini tumbuh keberanian untuk menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, mampu membaca peluang, dan siap berkontribusi dalam membangun kemandirian ekonomi di masa depan,” tambahnya.90 Cup Habis, Santri Rasakan Serunya Dunia UsahaSalah satu santri kelas XII, Fuad, mengaku bersyukur karena Cendol Santri mendapat sambutan yang sangat baik dari para pengunjung.“Alhamdulillah, stand kami terjual habis. Sekitar 90 cup sudah terjual dalam waktu kurang dari dua jam. Tadi ramai sekali, sampai kami harus fokus melayani pembeli dan memastikan pesanan tetap berjalan dengan baik,” ungkapnya.Menurut Fuad, pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang berbeda dari pembelajaran di kelas.“Alhamdulillah ini menjadi pengalaman kami dalam berwirausaha. Kami jadi tahu bagaimana rasanya menyiapkan produk, menjual, melayani pembeli, dan bekerja sama dengan teman-teman. Insya Allah pengalaman ini bisa menjadi bekal untuk membangun kemandirian ekonomi ke depannya,” tuturnya.Segar Rasanya, Positif PengalamannyaDari sisi konsumen, Cendol Santri juga mendapat respons positif. Fadli, salah satu pengunjung, mengaku menikmati minuman tersebut, terlebih karena suasana Depok yang cukup panas saat kegiatan berlangsung.“Alhamdulillah enak rasanya, segar, apalagi diminum saat cuaca lagi panas di Depok,” ujarnya.Antusiasme para pengunjung pun membuat stand Cendol Santri menjadi salah satu titik yang ramai selama kegiatan bazar berlangsung.Bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, pengalaman seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang lebih utuh. Santri tidak hanya dipersiapkan dengan bekal ilmu dan pembinaan ruhiyah, tetapi juga diarahkan memiliki keterampilan hidup, keberanian berwirausaha, kemampuan bekerja sama, dan kesadaran untuk membangun kemandirian ekonomi.Cendol Santri akhirnya bukan sekadar 90 cup minuman yang ludes terjual. Di baliknya ada 90 kesempatan belajar—tentang keberanian memulai, kerja keras, pelayanan, kerja sama, dan arti sebuah kemandirian.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
709 Anak PAUD-TK Ikuti Manasik Haji Anak Sholeh 2026 di Hidayatullah Depok, Belajar Rukun Islam Sambil Bergembira
Depok — Suasana ceria dan penuh semangat mewarnai Manasik Haji Anak Sholeh PAUD-TK se-Cilodong, Cibinong, dan Pondok Rajeg Tahun 2026 yang digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Alun-alun Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.Kegiatan yang diikuti sekitar 709 peserta anak dari 27 sekolah PAUD-TK tersebut menjadi sarana edukatif untuk mengenalkan salah satu rukun Islam, yaitu ibadah haji, kepada anak-anak sejak usia dini. Bersama orang tua dan guru pendamping, total peserta yang hadir mencapai lebih dari 1.000 orang, memadati kawasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.Sejak pagi, suasana pesantren tampak berbeda. Anak-anak mengenakan pakaian ihram dan perlengkapan manasik dengan penuh keceriaan. Berbagai tahapan manasik dilaksanakan dengan dikemas secara ramah anak sehingga pembelajaran terasa seperti sebuah pengalaman bermain yang menyenangkan.Selain rangkaian manasik, kegiatan juga dimeriahkan dengan bazar aneka cemilan dan makanan yang menambah semarak suasana. Para peserta dan pendamping dapat menikmati suasana pesantren sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga sekolah dari berbagai wilayah.Belajar Rukun Islam dengan Cara yang MenyenangkanKegiatan dibuka oleh Ust. M. Ali Busro, M.M., yang menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta, guru, dan orang tua yang hadir di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.“Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh guru, orang tua, dan peserta Manasik Haji Anak Sholeh di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Kami merasa bangga dan bersyukur dapat menyambut kehadiran seluruh peserta dalam kegiatan yang sangat edukatif ini,” ungkap beliau.Beliau menambahkan bahwa kegiatan manasik menjadi sarana penting untuk mengenalkan ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima kepada anak-anak sejak dini.“Ini merupakan kegiatan yang sangat edukatif karena hari ini kita akan melaksanakan manasik haji. Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Semoga seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, dari keberangkatan hingga selesai dan seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan gembira,” imbuhnya.27 Sekolah Bersilaturahmi dalam Satu KegiatanKetua Panitia Manasik Haji Anak Sholeh 2026, Ustazah Dewi Kaniawati, S.Ak., menyampaikan rasa syukur atas antusiasme peserta yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.“Alhamdulillah, kegiatan Manasik Haji Anak Sholeh 2026 diikuti oleh 27 sekolah dari wilayah Cilodong, Cibinong, dan Pondok Rajeg. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah antusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir, serta kepada para orang tua dan dewan guru pendamping yang telah mendukung dan membersamai ananda,” tuturnya.Beliau berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak peserta pada penyelenggaraan berikutnya.“Besar harapan kami pada kegiatan selanjutnya peserta yang ikut bisa lebih banyak lagi. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini, kepada pihak yayasan yang telah memberikan dukungan penuh, serta tim media dan tim SPMB yang turut membantu sehingga kegiatan berjalan dengan lancar,” tambah beliau.Tidak hanya sebagai kegiatan edukatif, menurut beliau, manasik ini juga menjadi ruang untuk memperluas silaturahmi antar sekolah sekaligus memperkenalkan lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok kepada masyarakat.“Kegiatan ini selain menjadi sarana mempererat silaturahmi antarsekolah PAUD-TK di sekitar Kota Depok, juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok kepada para wali murid dan guru pendamping yang hadir,” imbuhnya.Manasik Dibuat Serasa Nyata, Anak-anak Antusias Mengikuti Setiap TahapanPara peserta tidak hanya menyaksikan penjelasan secara teori, tetapi mengikuti rangkaian manasik dengan praktik langsung. Mulai dari tahapan thawaf hingga berbagai simulasi ibadah haji lainnya, anak-anak diajak merasakan pengalaman belajar yang lebih konkret.Konsep tersebut mendapat respon positif dari para pendamping. Bunda Imah, pendamping dari TKIT Rabbani, mengaku kembali mengikuti kegiatan tersebut karena pelaksanaannya dinilai sistematis dan mudah diikuti oleh anak-anak.“Alhamdulillah ini tahun kedua kami mengikuti manasik di sini. Salah satunya karena lokasinya dekat, kemudian kegiatannya tersusun dan sistematis seperti aslinya, mulai dari thawaf sampai minum air zam-zam. Anak-anak juga lebih mudah mengikuti karena suasananya dibuat menyenangkan,” ungkapnya.Sementara itu, Bunda Bani, juga dari TKIT Rabbani, mengapresiasi lingkungan pesantren yang luas dan asri.“Alhamdulillah dari lingkungannya juga sangat asri dan tempatnya luas, sehingga anak-anak merasa nyaman dan aman mengikuti manasik haji di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Tempatnya luas dan kami juga sangat puas dengan pelayanannya,” tuturnya.Hal senada disampaikan Bunda Heni yang menilai kegiatan berlangsung menarik dan tidak membuat anak-anak mudah bosan.“Alhamdulillah manasik haji di Pondok Pesantren Hidayatullah sangat menarik sekali. Kegiatannya sistematis dan terarah, anak-anak juga tidak mudah bosan. Tempatnya bagus, lingkungannya sejuk dan asri, sehingga anak-anak tidak kepanasan saat mengikuti manasik. Pokoknya the best buat Pesantren Hidayatullah,” ungkapnya.Dari TAUD Daarul Ittiba’: Terima Kasih Sudah Fasilitasi Anak Mengenal HajiApresiasi juga datang dari Bunda Hasna dan Bunda Khonsa, pendamping dari TAUD Daarul Ittiba’. Keduanya menyampaikan rasa terima kasih atas fasilitas dan kesempatan yang diberikan kepada anak-anak untuk mengenal salah satu rukun Islam tersebut.“Kami dari TAUD Daarul Ittiba’ mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Depok yang telah memfasilitasi anak-anak jenjang PAUD untuk mengikuti kegiatan manasik haji. Ini menjadi pengalaman yang sangat baik bagi anak-anak untuk mengenal ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima sejak usia dini. Semoga menjadi keberkahan untuk semuanya,” ungkap mereka.Melalui Manasik Haji Anak Sholeh 2026, Pondok Pesantren Hidayatullah Depok tidak hanya menghadirkan kegiatan edukatif bagi anak-anak, tetapi juga membuka ruang silaturahmi antar sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat dalam suasana yang penuh keceriaan.Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar menanamkan nilai-nilai keislaman sejak usia dini dengan cara yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami, sehingga anak-anak tidak hanya mengenal rukun Islam secara teori, tetapi juga memiliki pengalaman nyata yang membekas dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.Rep: Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu -
HIDA Water Naik Kelas, Universitas Sahid Perkuat Kemandirian Ekonomi Pesantren Hidayatullah Depok
Depok — Semangat membangun kemandirian ekonomi pesantren terus dikembangkan oleh Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Salah satunya melalui penguatan HIDA Water, unit usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang tidak hanya diarahkan sebagai unit bisnis pesantren, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.Pengembangan HIDA Water mendapat penguatan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sahid yang mendampingi pengelola pesantren dan para santri dalam penguatan teknologi produksi, manajemen usaha, pengendalian mutu, hingga pemasaran digital. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjadikan unit usaha pesantren semakin profesional, mandiri, dan berdaya saing.HIDA Water sendiri mulai beroperasi pada 2024 sebagai bagian dari pengembangan unit usaha produktif Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Selain memenuhi kebutuhan air minum bagi santri dan masyarakat sekitar, usaha ini dikembangkan dengan perhatian pada kualitas produk, pemanfaatan teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan.Dari Evaluasi hingga Penguatan Teknologi ProduksiPendampingan Universitas Sahid dimulai melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 20 Juni 2026 untuk memetakan kebutuhan dan menentukan prioritas pengembangan HIDA Water. Dari proses tersebut, sejumlah aspek kemudian menjadi fokus penguatan, mulai dari keamanan pangan, manajemen keuangan, pemasaran digital, pengemasan, hingga pengendalian mutu. (https://rm.id/)Pelatihan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dilaksanakan pada 1 Juli 2026 dan diikuti 20 peserta. Materinya mencakup kebersihan diri, sanitasi, kebersihan peralatan, serta pengendalian proses produksi. Selanjutnya, pada 7 Juli 2026, peserta mendapatkan pelatihan manajemen keuangan yang mencakup pencatatan transaksi, arus kas, dan biaya produksi, dilanjutkan dengan pelatihan pemasaran digital dan praktik pembuatan akun media sosial. Penguatan sarana produksi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan alat pengemasan pada 12 Agustus 2026. Kehadiran alat tersebut diharapkan dapat mengurangi proses manual, meningkatkan efisiensi produksi, serta menghasilkan kemasan yang lebih rapi dan konsisten. HIDA Water, Laboratorium Kewirausahaan SantriYang menarik, pengembangan HIDA Water tidak berhenti pada target peningkatan penjualan. Bagi Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, unit usaha ini juga menjadi laboratorium pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.Santri dilibatkan dalam berbagai tahapan, mulai dari proses produksi, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran. Dengan demikian, pembelajaran tentang bisnis tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman nyata mengelola sebuah usaha. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian generasi. Santri tidak hanya diarahkan menjadi pribadi yang memiliki kemampuan akademik dan keagamaan, tetapi juga dibekali keberanian untuk berwirausaha, memahami pengelolaan usaha, serta mampu melihat peluang ekonomi di tengah masyarakat.Kolaborasi Kampus dan Pesantren Perkuat Ekosistem UsahaProgram yang dilakukan Universitas Sahid juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam mengembangkan potensi ekonomi umat.Tim Universitas Sahid yang dipimpin Dedy Wahyudi, bersama Diny A. Sandrasari dan Findy R. Muhammad, bekerja bersama pengelola HIDA Water yang dipimpin Gani Alfianto selaku Ketua Business Development Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, serta para santri dalam berbagai tahapan pengembangan usaha. (https://rm.id/)Diny A. Sandrasari menilai fondasi usaha HIDA Water sebenarnya sudah cukup kuat dan memiliki peluang untuk berkembang menjadi unit usaha yang lebih mandiri dan kompetitif.“Diperlukan sentuhan teknologi yang tepat, khususnya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan pengemasan. Teknologi yang kami hadirkan diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mitra dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujarnya. Dari Unit Usaha Menjadi Jalan Kemandirian PesantrenPenguatan HIDA Water menjadi bagian dari visi yang lebih besar, yakni membangun kemandirian ekonomi pesantren agar lembaga memiliki kemampuan untuk terus berkembang dan memperluas manfaat bagi umat.Pesantren tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang melibatkan santri secara langsung. Di sinilah nilai pendidikan dan kemandirian bertemu: santri belajar mengelola usaha sekaligus memahami bahwa ilmu yang diperoleh harus mampu melahirkan kebermanfaatan.Melalui sinergi dengan Universitas Sahid, Hidayatullah Depok berharap HIDA Water dapat terus berkembang menjadi unit usaha yang semakin profesional sekaligus menjadi tempat tumbuhnya keterampilan, pengalaman, dan kemandirian ekonomi santri.Pada akhirnya, HIDA Water bukan sekadar air minum yang diproduksi pesantren. Ia merupakan bagian dari ikhtiar Hidayatullah Depok membangun generasi yang mampu belajar, berkarya, berwirausaha, dan turut memperkuat ekonomi umat. Rep: Markom Unsahid/Makhfudz/HD MediaEditor: Tim Humas YPPH Depok
1 bulan yang lalu