greenberggrossllp.com

YPPH Depok

Menjaga Fitrah Anak di Era Digital, Ust. Muhammad Iqbal: Jangan Sampai Anak Lebih Dekat dengan Gadget daripada Al-Qur'an

Depok – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital, orang tua menghadapi tantangan besar dalam mendidik anak. Kemudahan akses informasi melalui gawai memang membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menyimpan ancaman jika tidak diimbangi dengan pendidikan iman dan karakter yang kuat.

Hal tersebut menjadi salah satu poin penting yang disampaikan Ust. Muhammad Iqbal, Ph.D., seorang psikolog, saat menjadi pemateri dalam Orientasi Wali Murid Pendidikan Integral Pondok Pesantren Hidayatullah Depok yang digelar di Masjid Ummul Quraa, Ahad (12/7/2026). Di hadapan ratusan wali murid, beliau mengajak para orang tua untuk kembali menyadari bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus menjaga fitrah dan keimanan mereka sejak dini.

Menurut beliau, salah satu fenomena yang paling memprihatinkan saat ini adalah semakin dekatnya anak-anak dengan dunia digital dibandingkan dengan Al-Qur'an.

"Di era digital saat ini, anak-anak kita lebih fasih menggunakan gadget daripada membaca Al-Qur'an. Tugas kita sebagai orang tua adalah menjaga fitrah mereka agar tetap mengenal Allah," tuturnya.

Beliau menjelaskan bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, namun harus dikelola dengan bijak. Orang tua memiliki peran sebagai pendamping utama agar anak mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkarya, bukan justru menjadi penyebab rusaknya karakter dan akhlak.

Pendidikan Pesantren Menjadi Solusi

Dalam paparannya, Ust. Muhammad Iqbal, Ph.D. juga menegaskan bahwa pendidikan pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga memiliki karakter, mental yang tangguh, serta kesiapan menghadapi tantangan kehidupan. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik semata, melainkan dari kemampuan anak dalam beradaptasi, menjaga akhlak, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa orang tua memiliki peran besar dalam membentuk mental anak sejak dini. Salah satunya dengan memberikan ruang bagi anak untuk belajar menghadapi tantangan, mengikuti berbagai kegiatan positif, serta mendapatkan pembinaan di lingkungan pesantren.

"Tugas orang tua juga salah satunya membuat mental anak kita menjadi kuat, agar ia tumbuh menjadi pribadi yang matang dan tahan banting. Biarkan mereka mengikuti olahraga, berorganisasi, atau menempuh pendidikan di pesantren, sehingga anak tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, bermoral, serta siap menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi umat," tambahnya. 

Beliau menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik semata. Lebih dari itu, keberhasilan sejati adalah ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang mengenal Rabb-nya, memiliki akhlak mulia, mampu menjaga ibadah, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Menjaga Fitrah Anak Dimulai dari Rumah

Sebagai psikolog, Ust. Muhammad Iqbal mengingatkan bahwa setiap anak lahir membawa fitrah yang baik. Namun, lingkungan, pola asuh, dan kebiasaan sehari-hari sangat menentukan bagaimana fitrah tersebut berkembang.

Beliau mengajak para orang tua untuk melakukan evaluasi ketika mulai melihat perubahan perilaku anak.

"Jika fitrah anak mulai terganggu, jika anak mulai nakal, suka melawan, atau berperilaku negatif, itu pertanda kita sebagai orang tua belum maksimal menjaga fitrah mereka," ungkapnya.

Menurutnya, pendidikan karakter paling efektif dimulai dari rumah. Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga menjadi teladan dalam ibadah, adab, komunikasi, dan kebiasaan sehari-hari.

Ia menekankan bahwa anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Karena itu, membangun suasana rumah yang penuh keteladanan akan menjadi investasi pendidikan yang sangat berharga.

Mewujudkan Generasi Insan Kamil

Di akhir penyampaiannya, Ust. Muhammad Iqbal mengajak seluruh wali murid untuk memiliki visi pendidikan jangka panjang. Menurutnya, tujuan akhir pendidikan bukan sekadar melahirkan lulusan yang pintar, melainkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu, iman, dan akhlak.

"Kita ingin melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga memiliki integritas yang kuat, spiritual yang kokoh, dan akhlak yang mulia. Inilah yang disebut sebagai insan kamil," tuturnya.

Beliau berharap sinergi antara orang tua dan sekolah terus diperkuat sehingga proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut di lingkungan keluarga. Dengan kolaborasi yang baik, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi Qurani yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang muslim.

Orientasi Wali Murid Pendidikan Integral Hidayatullah Depok ini menjadi momentum penting untuk menyamakan visi antara lembaga pendidikan dan keluarga. Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para orang tua semakin memahami bahwa keberhasilan mendidik anak bukan hanya tentang masa depan dunia, tetapi juga menjadi bekal menuju kehidupan akhirat.

Rep: Makhfudz/HD Media
Editor: Tim Humas YPPH Depok