Disiplin: Wujud Cinta Tertinggi Guru untuk Muridnya
Hidayatullah Depok – Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah manifestasi transformasi karakter atau proses tarbiyah yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa secara substansial. Dalam agenda Tausyiah Silaturahmi Syawal Kampus Utama Hidayatullah Depok, Ustadz Hamim Thohari, Ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Depok, menegaskan bahwa esensi takwa harus terinternalisasi dalam setiap sendi kehidupan, mulai dari aktivitas primer hingga fase istirahat, serta menjadi fondasi profesionalisme bagi seluruh pendidik secara umum dan mitra juang Kampus Utama Hidayatullah Depok khususnya.
Metamorfosis Karakter: Analogi Ulat dan Ular
Dalam pemaparannya, Ustadz Hamim memberikan perumpamaan filosofis mengenai dikotomi karakter melalui analogi ulat dan ular. Beliau menekankan bahwa pasca-Ramadhan, individu seharusnya mengalami metamorfosis layaknya ulat yang bertransformasi menjadi kupu-kupu.
"Kupu-kupu adalah representasi pribadi yang atraktif, tidak tamak, dan selektif dalam mengambil manfaat tanpa mencederai ekosistem di sekitarnya," paparnya. Sebaliknya, beliau memberikan peringatan keras agar insan pendidikan tidak menyerupai ular yang meski telah mengalami proses pergantian kulit secara periodik, tetap mempertahankan sifat dasar yang membahayakan dan destruktif. Keberhasilan Ramadhan diukur dari perubahan signifikan menjadi sosok yang memberikan kemanfaatan publik sesuai prinsip khairunnas anfa'uhum linnas.
Menyoroti peran strategis tenaga pendidik di lingkungan sekolah dan pesantren, Ustadz Hamim menggarisbawahi bahwa loyalitas terhadap profesi dan institusi harus dibuktikan melalui tindakan konkret, yakni kedisiplinan.
"Kedisiplinan dalam presensi, baik waktu kehadiran maupun kepulangan, merupakan bukti nyata dedikasi terhadap profesi dan perwujudan sikap profesionalisme," tegas beliau. Secara normatif, beliau menambahkan bahwa ketidakdisiplinan adalah awal dari segala bentuk pelanggaran. Oleh karena itu, setiap pendidik diwajibkan untuk mengedepankan kepatuhan mandiri sebagai bentuk pengabdian terhadap visi besar pendidikan yang melampaui kepentingan personal.
Mitigasi Risiko Sosial melalui Resep "JAMU"
Selain aspek manajerial kedisiplinan, aspek komunikasi sosial dalam ekosistem pendidikan turut menjadi atensi. Beliau mengintroduksi formula "JAMU" (Jaga Mulutmu) sebagai langkah preventif dan kuratif pasca-Ramadhan. Lisan dipandang sebagai instrumen vital dalam transfer pengetahuan (transfer of knowledge), namun sekaligus memiliki risiko hukum dan sosial yang tinggi jika tidak terkelola dengan baik.
Filosofi salam (Assalamu’alaikum) harus diinterpretasikan sebagai jaminan keamanan bagi pihak lain dari potensi gangguan lisan, sikap, maupun perbuatan. Mengacu pada hadis Nabi, salamatul insan fi hifzhil lisan. Beliau mengingatkan bahwa kualitas manusia ditentukan oleh produktivitas usia dan kemampuannya dalam melakukan pengendalian diri (self-control) terhadap nafsu agar tetap berada pada koridor hidayah.
Aksentuasi Memantaskan Diri
Sebagai konklusi, Ustadz Hamim menginstruksikan seluruh tenaga pendidik untuk fokus pada upaya "memantaskan diri". Alih-alih bersifat menuntut terhadap keadaan atau kuantitas peserta didik, guru wajib meningkatkan standar kualitas dan integritas personal.
"Tugas fundamental kita adalah memantaskan diri agar tercapai ekuilibrium antara ekspektasi lembaga dan kepercayaan masyarakat," pungkasnya. Dengan pribadi yang kompeten, kedisiplinan yang kokoh, dan etika komunikasi yang terjaga, diharapkan institusi pendidikan dapat terus bertransformasi menjadi wadah perjuangan yang kredibel dan bermartabat.
Disampaikan oleh: KH. Hamim Thohari (Tausyiah Silaturahmi Syawal Kampus Utama Hidayatullah Depok)
Disarikan oleh: Saihul Islam, Sekretaris YPPH Depok