Penguatan Nilai dan Strategi Agile, YPPH Depok Akselerasi SPMB dan Peradaban Pendidikan
Depok, Dalam upaya memperkuat arah gerak organisasi sekaligus mengoptimalkan capaian Sistem Penerimaan Pesarta Didik Baru (SPMB), Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok (YPPH Depok) menegaskan pentingnya sinergi, konsistensi, dan pendekatan berbasis nilai dalam setiap lini kerja.
Pesan tersebut mengemuka dalam rangkaian arahan pembina dan pimpinan yayasan yang menekankan keseimbangan antara ikhtiar strategis dan penguatan spiritual sebagai kunci keberhasilan lembaga.
Konsistensi dan Kerja Kolektif dalam Mencapai Target
Dalam sambutannya, Ust. Dudung A. Abdullah, M.H.I., menegaskan bahwa capaian SPMB yang saat ini masih di angka di bawah 50% harus menjadi perhatian bersama.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak dapat bergantung pada individu, melainkan harus dibangun melalui kerja tim yang solid.
“Ada hal yang perlu kita jaga bersama, yaitu konsistensi dalam menjalankan aturan dan komitmen untuk berjuang bersama. SPMB ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya satu dua orang,” ujarnya.
Pendekatan kolaboratif ini dinilai menjadi kunci dalam mengejar target yang telah ditetapkan dalam waktu yang tersisa.
Organisasi Agile Berbasis Nilai
Lebih lanjut, Ust. Dudung menjelaskan bahwa YPPH Depok harus terus bergerak sebagai organisasi yang agile, yakni lincah, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan umat. 
Ia mencontohkan, ketika masyarakat membutuhkan sistem pendidikan full day school, maka lembaga harus cepat mengkaji dan merespons melalui mekanisme yang ada.
“Organisasi yang kuat itu bukan hanya seperti kapal perang besar, tetapi juga harus lincah seperti kapal cepat. Inilah yang akan membawa kita menuju keberhasilan dunia dan akhirat,” jelasnya.
Ia juga mendorong agar berbagai capaian dan aktivitas positif santri dipublikasikan secara luas sebagai bagian dari penguatan citra dan kepercayaan masyarakat.
Spiritualitas sebagai Kekuatan Utama
Sementara itu, anggota pembina, KH. Abu A’la Abdullah, menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam setiap ikhtiar yang dilakukan.
Menurutnya, rasa syukur dan kesabaran merupakan kunci dalam meraih pertolongan Allah SWT. Ia mengajak seluruh elemen untuk memperbaiki kualitas ibadah, khususnya shalat, sebagai fondasi kekuatan internal.
“Yang paling terasa dampaknya adalah ketika kita menjaga shalat, terutama tahajud. Di situlah letak kekuatan seorang pejuang,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa para pendiri Hidayatullah dikenal memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa, terutama dalam menjaga qiyamul lail sebagai sumber energi perjuangan.
Optimalisasi SPMB: Ikhtiar dan Munajat
Dalam menghadapi sisa waktu sekitar tiga bulan menuju target SPMB, KH. Abu A’la mengajak seluruh tim untuk memaksimalkan ikhtiar lahir dan batin.
Target besar tetap harus dicanangkan, dengan tetap mempertimbangkan capaian realistis yang terukur.
“Kita pasang target 100%, dengan capaian realistis 75%. Ikhtiar harus maksimal, tetapi tetap dibarengi dengan munajat kepada Allah,” tegasnya.
Beliau juga memberikan analogi bahwa mendidik anak, termasuk dalam proses SPMB, harus dilakukan dengan pendekatan penuh cinta, sebagaimana merawat tanaman agar tumbuh dengan baik.
Sinergi Sekolah dan Orang Tua
Dalam konteks pembinaan wali murid, ia menekankan pentingnya pendekatan yang lebih sederhana namun terintegrasi.
Menurutnya, kebutuhan wali murid perlu difasilitasi dengan baik agar tercipta kesinambungan antara pendidikan di sekolah dan di rumah.
“Ketika kita mampu menghadirkan solusi atas kebutuhan wali murid, maka hubungan akan terbangun lebih kuat. Pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga harus hidup di rumah,” jelasnya.
Menuju Lembaga yang Berdampak
Dengan penguatan nilai, strategi organisasi yang adaptif, serta keseimbangan antara ikhtiar dan spiritualitas, YPPH Depok optimis mampu mencapai target yang telah ditetapkan.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya besar dalam membangun lembaga pendidikan dan dakwah yang tidak hanya unggul secara sistem, tetapi juga berdampak luas bagi umat dan peradaban.